PANGKALPINANG – Siapa sangka, daun ketapang kering yang kerap dianggap sampah dan dibiarkan berserakan di jalanan, kini menjelma menjadi komoditas ekspor...
Dekranasda Babel Dukung Penuh Industri Daun Ketapang Kering Go International
PANGKALPINANG – Siapa sangka, daun ketapang kering yang kerap dianggap sampah dan dibiarkan berserakan di jalanan, kini menjelma menjadi komoditas ekspor bernilai ekonomi tinggi di pasar internasional.
Keberhasilan ini menarik perhatian khusus dari Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Noni Hidayat Arsani, yang menegaskan kesiapannya untuk mengawal dan mendukung penuh produk lokal ini (daun ketapang, red) agar terus "naik level" atau go internasional.
Menurutnya, inovasi yang dilakukan pelaku industri lokal membuktikan bahwa produk sederhana memiliki nilai jual tinggi apabila dikelola secara kreatif dan profesional.
Apresiasi tersebut diberikan kepada Central Charcoal Babelindo, industri lokal asal Babel yang dirintis Lukman sejak tahun 2022. Berbekal kejelian melihat peluang pasar, usaha kreatif ini berhasil menangkap peluang bisnis unik dengan mengekspor daun ketapang kering sebagai pelengkap kebutuhan dunia akuarium dan pemeliharaan reptil di luar negeri.
Hingga saat ini, daun ketapang kering asal Babel telah berhasil mengepakkan sayap ke berbagai belahan dunia, mulai dari Amerika Serikat, Inggris, Turki, Singapura, Jepang dengan serapan 10.000 bungkus, hingga Jerman yang memesan sebanyak 20.000 bungkus.
Melihat potensi pasar, Noni Hidayat Arsani menyatakan bahwa Dekranasda Babel berkomitmen penuh untuk mendorong kapasitas produksi industri ini melalui sinergi bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Babel guna memfasilitasi alat penunjang produksi yang memadai.
"Ini adalah bukti nyata bahwa ekonomi lokal kita bisa bersaing di kancah global. Sesuatu yang tadinya dianggap tidak berguna, ternyata memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi di luar negeri. Kami dari Dekranasda, bersama Disperindag Babel, siap menyokong pemenuhan fasilitas dan alat penunjang kerja agar kapasitas ekspor mereka bisa semakin besar dan stabil," ujar Noni saat meninjau stand industri di halaman Kantor Gubernur Babel, Kamis (11/6/2026).
Lebih dari sekadar mencetak prestasi ekspor, Noni optimistis aktivitas bisnis ini dapat menjadi pemantik bangkitnya ekonomi kerakyatan melalui skema pemberdayaan masyarakat. Warga sekitar dapat dilibatkan secara langsung sebagai penyuplai bahan baku daun ketapang kering yang memenuhi standar mutu.
Peluang ini dinilai sangat menjanjikan untuk menambah pendapatan harian keluarga, di mana setiap 12 lembar daun ketapang kering yang lolos sortir dihargai sebesar Rp2.500.
"Kami ingin masyarakat jeli menangkap peluang baru ini. Dengan mengumpulkan dan menyortir daun ketapang, warga bisa mendapatkan penghasilan tambahan. Ini adalah bentuk pemberdayaan berbasis lingkungan (green economy) yang dampaknya langsung menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Jadi, dari hulu ke hilir, semua merasakan perputaran ekonominya," tambah Noni.
Melalui kolaborasi kuat antara pelaku industri, masyarakat sebagai penyuplai, ditambah dengan dukungan fasilitas dari Dekranasda dan Disperindag Babel, komoditas unik ini diharapkan Noni dapat terus berkembang menjadi produk unggulan baru.
Langkah strategis ini dipercaya tidak hanya menggerakkan roda ekonomi daerah dari sektor bawah, tetapi juga membawa nama Bangka Belitung semakin harum di panggung perdagangan internasional.
Sumber : Dinas Kominfo
Penulis : Idris Af
Editor : Vera
Fotografer : Jo Fandi