Gotong royong: Benang Merah Kampong Adat Gebong Memarong dan Kemenkeu Mengajar
Rangkaian acara Kemenkeu Mengajar ke-10 di Kabupaten Bangka, sebuah gerakan kerelawanan para pegawai Kementerian Keuangan, memilih Kampong Adat Gebong Memarong sebagai lokasi acara Briefing daerah dan Refleksi Daerah. Lokasi ini dinilai sangat tepat karena proses pembangunan Gebong Memarong merupakan analogi sempurna dari proses pengelolaan keuangan negara.
Gebong Memarong adalah sekumpulan rumah-rumah tradisional Orang Lum yang mendiami daerah Mapur, Kabupaten Bangka dan diyakini sebagai suku melayu tertua di Pulau Bangka. Ditengah derasnya moderenisasi, Lembaga Adat Mapur berjuang mempertahankan budaya rumah tradisional ini yang jumlahnya semakin sedikit dan terancam punah beserta dengan adat istiadatnya.
Dalam adat istiadat Orang Lum, pembangunan setiap rumah panggung tradisional (memarong) dilakukan secara bersama-sama atau begerujuk. Warga gebong (kumpulan memarong) bekerja sama dan membagi peran dalam prosesnya: ada yang membuat alas rumah dari kayu pohon ibul, membuat atap dari daun nipah, membuat dinding dari kulit kayu kelukup, dan ada pula yang menjalin bagian-bagian tersebut dengan bilah rotan (tanpa paku). Saat memarong selesai dibangun, warga gebong akan bersama-sama memikul memarong dan memindahkannya ke lokasi yang diinginkan. Semua warga memiliki peran yang sama pentingnya dalam proses pembangunan tersebut, dan Sinergi tersebut juga terjadi dalam siklus Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan. Berbagai fungsi seperti mengedukasi, mengumpulkan, mengelola, membelanjakan, dan menginvestasikan keuangan negara dilakukan oleh unit eselon I di bawah Kementerian Keuangan yang berbeda-beda namun memiliki satu tujuan yang sama, yaitu pembangunan nasional.
Bahkan jika kita lihat dari sudut pandang yang lebih luas, siklus APBN merupakan kolaborasi besar dari berbagai Kementerian/Lembaga di Republik Indonesia: sejak tahap perencanaan, pembahasan, penetapan, pelaksanaan, pencatatan hingga pertanggungjawaban. Masyarakat Indonesia pun memiliki peran yang tak kalah penting dalam berpartisipasi mengawasi dan menjaga jalannya APBN.
Dalam acara Briefing Daerah (9/11) Kemenkeu Mengajar 10 Kab. Bangka, para relawan mengajak anak-anak di sekitar Kampong Adat Gebong Memarong untuk berliterasi bersama, membacakan buku, dan mendongeng. Para relawan Kemenkeu Mengajar 10 Kab. Bangka juga mendonasikan Pojok Baca berupa rak berisi sejumlah buku yang dapat dibaca anak-anak di Dusun Air Abik. Anak-anak bersemangat memilih buku untuk dibaca, meminta dibacakan nyaring oleh para relawan, bahkan beberapa anak terlihat asyik membacakan nyaring kepada teman-temannya yang lain. Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan kecintaan terhadap membaca buku dan memantik asa untuk mengejar cita-cita setinggi-tingginya.
Acara utama, yaitu Hari Mengajar dilaksanakan (10/11) dilaksanakan di tiga sekolah kolaborator di sekitar Kampong Adat Gebong Memarong: SD Negeri 23 Belinyu, SD Negeri 24 Belinyu, dan SMA Negeri 1 Riau Silip. Pada hari yang sama, para relawan melaksanakan acara refleksi dimana mereka berbagi cerita keseruan mengajar literasi keuangan negara di kelas. Para relawan juga belajar nganyam, membuat gelang dan perabotan rumah tangga dari resam dan rotan sebagai bentuk mengenal kebudayaan Orang Lum yang masih dilestarikan hingga sekarang.
Ketua Lembaga Adat Mapur, Bapak Asih Harmoko mengatakan, “Terima kasih kepada Kemenkeu Mengajar yang sudah datang dan berkegiatan di Kampong Adat Gebong Memarong. Semoga anak-anak di Dusun Air Abik mendapatkan inspirasi untuk terus mengejar mimpi dan bersekolah tinggi bahkan hingga menjadi professor. Terima kasih sudah melibatkan masyarakat adat dalam kegiatan yang penuh dengan kebaikan. Semoga dengan diadakannya kegiatan Kemenkeu Mengajar disini, semakin banyak orang mengenal Gebong Memarong dan keberadaan Masyarakat Adat Mapur”
Kemenkeu Mengajar ke-10 Kabupaten Bangka di Kampong Adat Gebong Memarong mengingatkan kita akan makna gotong royong dalam membangun bangsa. APBN adalah #UangKita, uang yang berasal dari rakyat dan kembali untuk rakyat. Setiap rupiah yang dikelola dengan baik adalah masa depan Indonesia dan masa depan seluruh anak-anak Indonesia. Dengan menjaga APBN, berarti menjaga masa depan kita bersama. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa perubahan besar terkadang tidak datang dari dentuman keras, melainkan bermula dari langkah kecil yang terus dipelihara.
Sumber : KM 10 Bangka
Penulis : KM 10 Bangka
Fotografer : KM 10 Bangka
Editor: Admin