Catatan Tentang Asti
Tahun 2009, di kamar kost kota pelajar
Aku memandang tak percaya, berita yang ku baca dalam pesan SMS bahwa kau pergi untuk selama-lamanya. Seperti baru kemarin kita saling berkirim pesan melalui pesan,kini kau pergi selama-lamanya menghadap Tuhanmu dengan meninggalkan bayi tampan yang sangat mirip denganmu.
Masih terekam dengan jelas, kala kau bercanda bahwa aku jangan menangis jika aku tak ada lagi. Kala itu, aku anggap hanya lelucon semata hinggakuucapkan kata-kata yang sangat kasar. Kamu pun hanya mengirimkan emoction tertawa jungkir balik.
Asti... kau wanita kuat, kau wanita mandiri, kau wanita solehah. aku yakin kau berada di tempat di mana tempat itu sangat indah. Aku terdiam dengan suara tangis yang sangat ku tahan. Kau tahu Asti, ketika aku mendapat kabar buruk, dadaku sesak. Kenapa kamu tega dengan aku, tega dengan kita semua. Tanpa sepatah kata tiba-tiba kau pergi.
***
Tahun 2009, langit jingga penuh kelabu
Wanita itu duduk terdiam memandangi tanah yang masih basah sambil memeluk batu nisan dengan jilbab hitam panjang terjuntai di samping pusaramu. Bau tanah masih tercium segar. Wangi melati dan kenanga menambah harum tanah pusaramu. Tanpa terasa air mata menetes, sakit melihat wanita itu terisak dengan suara tertahan. Ya ... dia mamamu yang harus kehilangan permata yang sangat beliau sayangi.
“Mbak, ini ada titipan dari Asti”, Ucap Mamamu sambil menahan isak tangisnya. Aku terdiam melihat kotak dan surat berwarna jingga dengan khas wangi kesukaanmu.
“Maaf Bu, baru sempat datang berkunjung, kemarin ada masih ada UAS benar-benar gak bisa izin Bu. Saya turut berduka cita Bu” Ucapku sambil terisak menahan agar tak pecah dekat pusaramu.
“Tak apa Mbak, saya memaklumi Mbak, mana Mbak kuliah sangat jauh dari kota ini. Mbak sudah datang mewakili alumi sekolah pun saya sudah senang, terasa beban di pundak terasa ringan” kata mamamu sambil tersenyum. Namun, aku tahu. kata-kata itu diucapkan agar aku tak merasa bersalah karena datang tak tepat waktu.
“Mbak, saya tinggal dulu ya. Di rumah masih banyak kerjaan, jangan lupa ba’da magrib ke rumah acara tahlilan Asti” ucap Mamamu.
“Baik Bu, insyaallah saya bersama teman-teman alumni datang”, Ucapaku sambil memeluk mamamu. Bu, yang sabar, Nanda tau ibu sangat kehilangan Asti, Nanda juga tahu Asti si bungsu kesayangan ibu harus pergi di usia masih muda. Tapi maut siapa yang tahu, hanya dia lah sang pemilik semesta ini yang tahu rahasia semua itu. Aku kembali menatap gundukan pusara dengan taburan bunga kemboja, melati, dan kenanga.
“Asti, aku balik dulu ya, insyallah jika umurku panjang dan aku diberi kesehatan,aku akan datang dengan cerita-cerita kita dulu. Suratmu aku baca di rumah saja, jika di sini aku pasti akan menangis lagi, nanti cantik ku bisa hilang” kataku sambil menghapus air mata yang masih menetes.
“Assalamualaikum Asti Binti Fulan, tenang-tenang di sana, aku akan selalu mengirimkan doa untukmu” ucapaku sambil memegang batu nisan di atas pusaramu. Tak terasa semilir angin membelaiku pelan, semburat warna merah jingga seperti tersenyum. Sayup-sayup ku dengar seperti orang berbicara mengucapkan terima kasih. Aku tersenyum tanpa menoleh ke belakang.
***
“Assalamualaikum Ibu... “ ucapku sambil membuka pintu dapur. ya kebiasaan kami jika pulang dari takziah harus melalui pintu belakang dan membersihkan diri minimal cuci kaki, tangan, dan muka. Entah supaya apa, yang pasti Ibu akan selalu mengomeliku panjang kali lebar kali alas kali tinggi jika aku tak melakukan apa yang diperintahkan ibu.
“Kau sudah balik Nanda?” Ucap Ibu dengan suara agak keras. Aku terjingkat kaget mendengar suara ibu dari belakang.
“Allahu akbar ibu, Nanda terkejut Ibu. Suka banget deh Ibu ngagetin Nanda.” kata ku sambil memegang dadaku karena kaget dengan suara ibu.
“Halahhhh, Nanda. Kamu aja yang suka kaget. Ibu sudah panggil dari tadi tapi kamu diem saja. Jangan terlalu sedih Nanda, sedih boleh tapi jangan berlebihan. Kita semua pasti akan ke sana, Cuma kita gak tahu kapan waktunya. Kita hanya bersiap diri saja dengan amalan kita. Dah Nanda, Ibu mau ke rumah Mak Asti, mau bantu-bantu. Kamu kalo mau ke sana nyusul saja” kata Ibu sambil mengambil pisau untuk bantu-bantu memasak persiapan tahlilan di rumah Mak Asti.
“Iya Bu. Nanda mau istirahat dulu Bu.” Kataku sambil berjalan kearah kamar dengan langkah gontai. Terasa dunia mau runtuh. kehilangan sahabat seperti ini rasanya bagaimana dengan orang yang kita sayangi. Aku tak dapat membayangkan hal itu terjadi kepadaku.
Ku rebahkan diriku di atas kasur sambil kupandangi surat jingga yang kau titipkan kepada mamamu. Seakan kau sudah merasa bahwa kau akan pergi jauh dan tak akan kembali. Aku menerawang suratmu, entah apa isi surat ini. Ada rasa yang tak bisa ku jelaskan. Rasa penasaran dengan isi surat, tapi ada rasa tak sanggup ketika membaca pesan suratmu.
Perlahan-lahan ku buka surat jingga dengan bau wangi kesukaanmu, ya wangi parfum bayi yang menjadi andalan mu semasa sekolah bahkan hingga kini.

“Asti, sampai kini pun kau tak memberitahuku tentang sakitmu, tentang deritamu, tentang apa yang semua kau alami. Tenang saja permintaanmu akan turuti, akan aku ceritakan pada Arka tentang dirimu”, Kataku sambil melipat suratmu. Ku buka isi box yang kau titipkan dengan mamamu. Tersentak aku ketika melihat isi box mu. ini semua kenanga-kenangan kita di SMA. kamu simpan dengan baik semua itu. Aku tergugu dengan semua itu. Aku pikir semua hilang tak berbekas. Ku ambil satu foto, ya ini foto kita semua bersama kawan-kawan dengan seragam yang sangat fenomenal, seragam putih abu-abu.
Bersambung…
Sumber : -
Penulis : Erara
Fotografer : -