2004 di Kota Kecil Penuh dengan Kenangan
DI SALAH satu kota kecil yang penuh dengan kekayaan alam dan lautan. yang terkenal dengan kuliner khasnya, yang terkenal dengan masakan lempah kuningnya, yang terkenal dengan belacan. Kami menyebutnya Habang.
Pukul 07.10 WIB aku sampai dengan motor bututku. Ku tebalkan muka ku tak peduli tatapan mata yang menusukku seakan-akan menghina, kok gak malu pake motor butut ya motor excelent warna merah jenis honda, motor dengan gigi dua tak.
“Nandaaaa.... cepat sini ... ada yang mau kutunjukkan.” Ucap Asti sambil melambaikan tanganny di depan kelas.
“Hadehhhh, ini anak, suaranya kayak petir. Mana gak liat tempat lagi. coba geh manggil tu kalau lah dekat kelas, ini ku masih di parkir. gak tau ap ini rok sempit nian”. Omel ku sambil membenarkan jilbabku yang sedikit berantakan efek helm dan terpaan angin.
“Ada apa Asti cantik nan bohai yang semok. Coba kalo manggil tunggu diriku sampai ini ku tengah di ujung kulon lah teriak-teriak kayak orang utan”. Omelku sambil meletakkan tas di kursiku.
“Hahhahaa... kayak kau dak tau watak Asti, bukan Asti kalau gak teriak-teriak” Kata Aeni sambil makan nasi uduk.
“Hihihiiii.... ya maaf, ini sudah diriku seperti ini” Ucap Asti sambil nyengir kuda.
“Haaaaiiiii, kawan-kawannnn.... ada berita... beritaaaa.... “ Kata Hendi sambil ngos-ngos dan membenarkan kopiah yang menceng. Kawan satu ini paling suka makai kopiah.
“Ngapa Hen, berita apa, kok sampai ngos-ngosan” Kata Yuni sambil pasang muka imut dengan make-up yang tebal. Aku dan teman-teman ngekek melihat tingkah Yuni. Yuni diam-diam menyukai si cowok ini yang dianggap alim dan tampan satu sekolah bahkan jebolan AFI pun kalah. Hendi adalah idaman Yuni. Kata Yuni suatu hari.
“Iya berita apa Hen. ngomong cepat. Kami sudah gak sabar lagi” Kata Andi dengan menendang kaki Hendi dengan sengaja.
“Akkaaaannnn adaaaa perlombaaaannnn menyanyi tingkat kabupaten dan juara pertama akan berlomba ke tingat provinsi, daaaannnnn yang paling menarik haidahhhhhhnyaaa jutaan rupiahhhh lhoooo” Kata Hendi dengan suara terbata-bata sambil menyerahkan brosur yang diberi oleh Bu Yayuk TU SMA Gambar Matahari dan di letakkan di atas meja. Kami langsung melihat brosur yang diberikan oleh Hendi dan benar hadiahnya bukan cuma tropi melainkan uang jutaan rupiah. Uang yang sangat besar pada masa itu.
“Hahhhhh benar ni, Kau dak bohong kan” Kata Asti sambil ngupil dan menggaruk kepala yang tertutup jilbab dan meletakkan upil di bawah meja milik Aeni.
“ Astiiiiiiiiii.....” Teriak kami semua serempak sambil mulai menjauh dikit dari Asti.
“Apa.. “ Kata Asti masih tetap kegiatan dia yang tidak berfaedah.
“Jorokkk benar kau ini. Cantik-cantik malah ngupil lagi. Sana cuci tangan. Jorok kali kau ini. Pantas lah Nono gak mau dekat kau. Kau suka banget ngupil” Kata Rinda sambil mendorong dia keluar kelas. Asti hanya tertawa terbaha-bahak dan mejulurkan lidah.
“Hen.... kau ikut lomba nyanyi kah? “ Kata Yuni sambil mendekati Hendi, sedangkan Hendi seperti menjauh karena bagi dia bukan muhrim kecuali ibu dan adik perempuannya.
“Hahahhahahahahahhaa..... Hendi kok ikut nyanyi, bisa roboh tu panggung” Ucap Rinda tertawa terbahak-bahak sambil melihat contekan buku tugas matematika milik Aeni.
Terdengar suara bel bunyi masuk. Tak lama pelajaran Ekonomi Akuntasi dimulai. Pak Yandi pun menjelaskan sambil dengan gaya-gaya yang sok cool. Akhirnya bunyi bel istirahat berbunyi setelah 3jam pelajaran menghitung uang yang tidak ada bendanya.
“Huffffttt akhirnya pelajaran ini berlalu. Kapanlah kita ngitung duit beneran. Masak iya ngitung duit boongan’, Ucapku sambil meletakkan kepala di atas meja.
“Sabar Nanda, nanti kita bakal hitung duit beneran, duit receh” Kata Indah teman sebangku yang telah berteman dari ku kelas 1
“Hahhhaaa.... kalo emang dak bisa ngitung ngomong aja Nanda,” Ucap Ayu sambil berlalu dengan gaya lenggak-lenggok bersama gank circlenya.
“Bisengggg Ayu. Pegi lah kau jauh-jauh, Pening kepala ku dengan suara kalian di kelas. jam belajar ribut, sekarang pun ribut” Ucapku ketus.
“Kau tu yang biseng. Cari gara-gara ya dengan kami. Sok-sok kau ini, ke sekolah aja pakai motor butut” Ucap Ayu.
“Kau yang cari gara-gara. Aku gak ada ngomong dengan kalian, tapi kalian yang jawab. Kalau aku sok-sok ngapain kemarin maksa minjam motor bututku. Alasan pake datang bulan segala, mau ganti rok lah, mau ini itulah” Ucapku sengit.
“Awas kau ya.” Kata Ayu dan Nia. sambil berlalu.
Aku hanya memandang jengah dengan dua orang teman sekelasku. Entah kenapa mereka seperti tak suka denganku, dari awal masuk sekolah hingga aku duduk di kelas 2.
“Kenapa mereka, kok di luar ngoceh-ngoceh kayak burung punai”, Kata Asti sambil makan es lilin.
“Biasalah mereka, kayak gak tau aja.” Kataku sambil menutup mukaku pakai buku.
“Ohyaaa Nanda, beneran ya info dari Hendi, yang ada lomba menyanyi dan sambil bermain gitar” Kata Asti sambil kembali melihat brosur.
“Pasti bener lah Asti, kan kamu baca sendiri brosurnya, ada bukti yang konkrit dan nyata, kamu gak ikut Asti. Kamu punya bakat lho, suaramu bagus, bisa main gitar, bisa juga main piano. Beda dengan aku, aku punya bakat menyanyi tapi di kamar mandi, hihihi” ucapku dengan posisi yang sama dengan tertawa ngikik.
“Ikutlah, menang atau kalah harus ikut. Lumayanlah duit lomba bisa tuk beli gitar lagi. Ni gitar udah sering eror. Tabunganku belum cukup, kurang dikit lagi” Ucap Asti sendu sambil dengan kegiatan yang tak berfaedah, apalagi kalo bukan mengupil.
“Jadilah Asti, jijik kali ku lihat kau ngupil, mana upilmu besar nian” kataku sambil melemparkan gumpalan kertas ke muka Asti.
“Lah emang kamu gak minta ke emakmu Asti. Emakmu kan banyak duit, Emakmu kepala sekolah kan, pasti bisa kalo cuma buat gitar.” Ucapku dengan suara pelan.
“Bisa sih, cuma aku ingin membeli gitar dengan hasil jerih payahku dan tabunganku dari uang jajan. Itung-itung belajar mandiri. Toh gak mungkin kan aku minta ke orang tua terus,” Ucap Asti sambil melihat kembali brosur, melipatnya, dan memasukkan ke dalam tasnya.
“Bener juga sih, aku juga lagi nabung nih. Pengen beli tas, tas ku juga lah mulai rusak,” Kata ku sambil menujukkan tas milikku yang resletingnya sudah mulai rusak.
“Hahaaa.... ke kantin yuk.. Laper sangat perut ku. ” Ucap Asti sambil menoel muka ku dengan tangan yang digunakan buat ngupil.
“Assstiiiiiiii.......Jorok benar” Teriakku sambil mengusap mukaku dengan ujung jilbabku, sedangkan Asti sudah berlari ke arah luar kelas.
“Gakkk, pergilah. Aku puasa Senin Kamis Asti,” Kataku sambil cengir.
“Pantas mukamu kayak ayam kelaparan” Ucap Asti sambil berlari takut kena timpuk dengan buku akuntasi ku. Aku menghela nafas panjang, sambil melihat jam di dinding kelas. Pulang masih dua jam lagi.
Aku menatap kesal dengan tingkah Asti yang selalu membuat kami teriak-teriak. tapi kekonyolan Asti yang selalu membuat kami rindu jika dia tidak masuk sekolah meski satu hari. Dia yang katanya orang berada tapi dia tidak menujukkan sikap manja dia. Dia yang selalu berusaha mandiri tuk mendapatkan segala sesuatu tanpa harus meminta dari orang tuanya. Dia yang selalu mengandalkan kemampuan vokal suara dan keahliannya dalam petikan gitar dan piano. Ya dia terlahir dari keluarga seni. Aku bersyukur memiliki sahabat seperti dia yang mau bersahabat dengan siapa saja tanpa memandang siapa orang tuanya, kerja apa orang tuanya, dan bagus atau tidakkah rumahnya.
Bersambung…
Sumber : -
Penulis : Erara
Fotografer : -